Aqidah

Ada Apa dengan Tauhid | (AADT bukan AADC)

بسم الله

Tauhid. Siapa yang tak pernah dengar enam huruf ini, apalagi seorang Muslim? Berulang-ulang kata ini terlontar, sampai berulang-ulang pun terngiang. Sayangnya, banyak yang tak paham, atau berlaga tak peduli. Malah merasa bodo amat dengan gumaman, “Emang Gue pikirin.” Bisa jadi, memang tak mau paham dan mengerti. *Yah kamu mah, gimana mau dimengerti, ngertiin aja gak mau | eh ups*

Lalu, ada apa dengan tauhid?

Misi penciptaan manusia itu mulia, misi TAUHID, beribadah kepada Allah semata. Allah ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,” (QS. Adz Dzariat : 56).

Misi tauhid, dengan itu lah para Rasul diutus. Inti risalah yang mereka bawa untuk menyebarkan dakwah tauhid, mengajak ummat manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan thogut ((sesembahan selain Allah)). Mereka datang sebagai utusan untuk membasmi kezaliman yang paling dahsyat (kesyirikan) dengan keadilan tauhid.

Nabi kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penutup para Nabi dan Rasul, tinggal di Makkah selama 13 tahun kurang lebih lamanya, mendakwahkan tauhid memperbaiki aqidah manusia saat itu, yang tercemari oleh budaya arab jahiliyyah yang tak lepas dari kesyirikan. Begitupula yang rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam amanahkan kepada Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ketika diutus ke Yaman. Beliau bersabda kepada Muadz, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab, maka hal yang engkau serukan kepada mereka pertama kali adalah mentauhidkan (mengesakan dalam ibadah) Allah ta’ala semata, kalau mereka sudah mengetahuinya, maka kabarkanlah bahwa Allah ta’ala mewajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Kalau mereka sudah melaksanakannya, maka kabarkanlah bahwa Allah mewajibkan mereka untuk menunaikan zakat, diambil dari kalangan orang kaya (-yang berkecukupan) yang disalurkan kepada kalangan orang miskin, kalau mereka telah memantamkan dan mentaati apa yang engkau sampaikan, maka ambilah harta mereka dan jagalah harta mereka yang kesemuanya harus dijaga kehormatannya,” 1

Pelajaran penting bagi seorang da’i tentunya untuk memprioritaskan tauhid dalam misi dakwahnya. Siapapun itu.

Memang seberapa penting sih Tauhid itu?

Tauhid dengan ibadah, yang merupakan tujuan penciptaan kita, itu tak akan terpisahkan. Tanpa tauhid, tak akan sah ibadah yang dilakukan. Tauhid lah hakikat ibadah sebenarnya, mengesakan Allah dalam ibadah kita. Hanya DIA lah, Allah, Dzat yang berhak atas segala bentuk ibadah.

Di dalam surat Al Kahfi, ayat 110 disebutkan,

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia beramal shalih dan tidak memersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya,”

Ayat di atas menjelaskan syarat diterimanya amal ibadah, dengan tauhid (mengikhlashkan ibadah kepada Allah semata) dan ittiba’ (mengikuti petunjuk nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam), sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsir Al Quran Al ‘Azhiim.

Berbeda dengan syirik, yang justru sebaliknya, menjadi perangkap yang paling berbahaya bagi kita. Bagaikan hadats yang merusak dan membatalkan tharah. Bahkan, ketika syirik akbar akan menghapus seluruh amalan yang telah dikerjakan. Nas`alullahassalaamah. “… Sungguh, kalau kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk orang yang merugi,” (QS. Az Zumar : 65)

Lebih bahayanya lagi, ketika seseorang yang berbuat kesyirikan dan wafat dengan keadaan tersebut, Allah tak akan pernah ampuni dosanya. Sedangkan orang yang bertauhid Allah akan ampuni dosanya.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisaa : 48)

Selain itu, Tauhid lah yang menghantarkan seseorang masuk surga. Rasulullah penjaminnya, barangsiapa yang akhir perkataannya, adalah “Laa Ilaaha illallah”, maka akan masuk surga.2 

Gak yakin kah? Insya Allah di pembahasan serial aqidah selanjutnya.

Semoga kita bisa menjaga selalu tauhid yang harus dipertahankan sampai ajal yang akan tiba entah kapan. Wallahu ta’ala a’lam bishawab.

Catatan :
(1) HR. Bukhari no. 6851
(2) HR. Abu Daud no. 3116


Afifi Marzuki Muslim

Official Line@ Afifi Marzuki Muslim
http://line.me/ti/p/%40cdz1826g
http://line.me/ti/p/%40cdz1826g
http://line.me/ti/p/%40cdz1826g

Add @cdz1826g  (jangan lupa “@”)
***
📷 Instagram : uda_afif
✏ Twitter : @uda_afif || Ask.fm : Uda_Afif
🎥 YouTube : Afifi Marzuki Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s