Fiqh

Hukum Wanita Haidh Masuk ke dalam Masjid dalam Perayaan Isra’ Mi’raj

Bismillah…

Wanita Haidh Masuk Masjid

Ada beberapa perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang berhadats, hadats kecil maupun hadast besar. Nah, ada juga perbuatan yang tidak boleh dilakukan khusus untuk orang yang berhadats besar, yap haidh dan nifas dalah satunya.

Di dalam Al Quran disebutkan :

( ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا)

“Wahai orang-orang yang beriman jangan kalian shalat sedangkan kalian dalam ke dalam keadaan mabuk, hingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, dan (jangan pula dekati masjid) dalam keadaan junub kecuali hanya sekedar lewat sampai kalian mandi,”[Surat An-Nisa’ 43]

Rasul pun pernah melarang wanita untuk mendekati tempat shalat kaum muslimin, di saat beliau memerintahkan para wanita untuk keluar, termasuk remaja putri dan juga wanita-wanita yang dipingit.(hadits Ummu ‘Atiyyah riwayat Imam Bukhari no.974 dan Imam Muslim no. 890)

Berdasarkan dalil 👆, orang-orang yang berhadats besar, haidh salah satunya, dilarang untuk diam di masjid. Kecuali hanya sekedar lewat.

( ۚ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا)

“Dan (janganlah kalian dekati masjid) dalam keadaan junub kecuali 👉 orang yang hanya sekedar lewat 👈 sampai kalian kalian mandi,”Hal ini dibolehkan jika memang ada keperluan dan dengan yakin bahwa si wanita yang haidh ini tidak akan mengotori masjid.

Isra’ dan Mi’raj…

Sebuah peristiwa luar biasa yang menunjukkan keagungan Allah ta’ala.  Tanpa rasa keimanan, rasanya tak mungkin akal ini akan menerimanya. Mustahil peristiwa ini bisa terjadi dengan segala keterbatasan teknologi pada saat itu. Perjalanan yang panjang yang hanya ditempuh dalam satu malam. Perjalanan ditempuh dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsha. Bukan itu saja, perjalanan pun dilanjutkan ke Sidratil Muntaha, sebuah tempat sangat indah, tak seorang pun makhluk Allah bisa menggambarkan keindahannya.

Bukannya sekedar perjalanan biasa ternyata. Ada suatu misi yang dituju. Bertemu dengan Allah dan menerima wahyu-Nya. Demi syiar yang mulia. Ibadah yang kita lakukan 5 kali dalam sehari, shalat, adalah hasilnya. Luar biasa bukan? Ternyata ibadah yang kita lakukan ini, Allah langsung yang merintahin, tanpa perantara. Ini pun keringanan yang Allah berikan untuk ummat ini. Awalnya 50 waktu. Akhirnya menjadi 5 waktu shalat. Tapi, setara dengan 50 waktu shalat. Artinya apa??? 1 waktu shalat nilainya 10. Masya Allah… Inilah peristiwa isra’ mi’raj.

Sayang sekali… Orang-orang di saat itu, tak ada satu pun yang percaya. Padahal yang berbicara adalah seorang yang sangat jujur, Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam. Sebelumnya tak satu pun orang yang mengingkari kejujurannya. Bahkan beliau digelari al amiin. Tapi, di saat muncul peristiwa ini, orang-orang Quraisy tak ada yang percaya. Kecuali, sahabat yang telah beriman, Abu Bakr salah satunya, yang digelari Ash Shiddiq karena peristiwa ini.

Begitulah peristiwa perjalanan sang kekasih, Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam, dalam isra’ dan mi’rajnya. Bertemu dengan para rasul sebelumnya. Kemudian menerima amanah risalah langsung dari sang ilah. Amanah shalat yang lima. Bisa dibaca lengkapnya di dalam hadits 2968 dan 3598 di kitab Shahih Bukhari serta di dalam Shahih Muslim nomor 162-168 dan juga kitab-kitab hadits lainnya yang menyebutkan kisah ini.

Perlu kita pahami dengan baik, bahwa segala bentuk ibadah yang kita lakukan semua terikat dengan aturan. Tak bisa dengan segala kreativitas yang kita miliki, membuat inovasi-inovasi dalam beribadah kepada-Nya. Apa yang diperintahkan maka kita lakukan. Apa yang dilarang maka kita jauhi. Yang perlu menjadi pedoman kita dalam beribadah adalah dalilnya, tentu dalil yang benar sesuai dengan Al Quran dan Hadits.

Perayaan Isra’ Mi’raj sebagai suatu rangkaian ibadah, ana pribadi belum menemukan dalilnya…😄  Tadi di atas👆 Isra’ Mi’raj itukan sebagai momen yang sangat luar biasa, di saat Allah berikan keringanan kepada ummat nabi Muhammad. Keringanan apa? Shalat 5 waktu, dari 50 waktu. Kurang apa ya enggak? Itupun 5 waktu itu sama dengan 50 😃. Itu saja cukup. Kita imani. Kita yakini. Ibadah kita jalani. Shalat kita lakoni. Nah yuk kita jaga aja shalatnya….👍👊

Wallahu ta’ala a’lam bishawab…😌

Akhuukum Al Faqiir Ilallah, Afifi Marzuki Muslim
Pondok Kopi, 5 Mei 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s