Celotehan

Sudah Dapat (Apa) 6 Tahun?

“Fi, Ente dapet apa 6 Tahun di AL BINAA?” pertanyaan ini membangunkanku dari lelapnya malas pada pekan itu. Seusai makan malam, di beranda masjid, entah mengapa aku pun tak mengerti. Apa yang mendorongnya bertanya seperti itu? Malam pun membisu.

Tiba-tiba aku teringat hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

“لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن عمره فيما أفناه وعن علمه فيما فعل به و عن ماله من أين اكتسبه وعن جسمه فيما أبلاه”

”Tidak bergeser kaki kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana dia amalkan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya bagaimana dia memanfaatkanya.” (HR. at-Tirmidzi, dan menurut beliau derajatnya hasan shahih)

“Enam tahun itu umur yang sudah terhabiskan, untuk apa sebenarnya enam tahun itu habis?”

Ia pun memecah kehampaan hati ini dengan kata-katanya dan memulai ceritanya.
“Fif, masak ane ditanyain gitu?” Ia bingung.
Aku pun penasaran, “Ha, iya? Sama siapa?”
“Jadi gini ceritanya. Ane dulu punya temen main waktu masih SD. Nah, sekarang udah pada mencar-mencar. Ada tuh temen main, dia di sana (sebuah pesantren terkenal di Jawa Tengah)
Aku pun menyelaknya, “Wuih, mantep tuh.”
Ia melanjutkan, “Tiba-tiba waktu liburan yang lalu (liburan kelas 11) ane ditanya tuh fif sama dia, dah berapa hafalannya? Bahasa arabnya dah lancar belum? Jujur fif, ane mah malu. Ane belum bisa apa-apa. Ane bilang aja apa adanya.”

Pikiranku sudah terbayang… “Saya udah bisa apa ya??? Aduh… banyak belum bisanya… 6 Tahun!!! Besok LULUS! Saya belum siap apa-apa untuk dibawa nanti keluar dari ma’had ini… 😦
Ia pun melanjutkan ceritanya, “Fif, jujur deh. Ane baru nyadar. 6 Tahun di AL BINAA ane belum bisa apa-apa, bahasa arab aja nggak, hafalan gak mutqin. Nyesel deh.”

Di sini aku kembali termenung, rasanya ingin sekali kuulang semua rekaman kehidupan enam tahun di pondok ini. Kuulang tuk kutata kembali. Agar tak menyesal di kemudian hari. Tapi, nyatanya ini hanya sebuah angan-angan kosong kawan!

Kukira… dia hanya mengeluh. Ternyata tidak! Dia justru memberikan energi positifnya kepadaku. Mengetuk relung qalbu agar terbuka diri. Membuka mata agar terus menyongsong hari. Menyambuk badan agar terus berlari. “Fif, pokoknya ane harus bisa! Masih ada tinggal beberapa bulan,” katanya padaku. Semangatku pun terbakar. Salut aku padanya. Alhamdulillah.

***

6 tahun bukan lah waktu yang singkat, meskipun rasanya baru kemarin kita ikut serah terima (Haflah Iftitah). Berapa biaya yang sudah orang tua kita bayar? Berapa liter bensin yang habis untuk mengantarkan dan menjemput saat libur tiba? Berapa ‘container’ makanan yang sudah kita santap? Berapa lama orang tua harus berpisah dari kita?

Saatnya MUHASABAH… Waktu masih ada, Peluang masih terbuka, Kesempatan masih tersisa. Pilihan ada di tangan kita. Husnul Khotimah? Atau Suul Khotimah?

Lulusan pesantren kalau sama aja kayak sekolah umum, lalu untuk apa?
Ummat butuh ulama. Tapi bukan cuman ulama!
Ummat butuh pemimpin.
Ummat butuh teknokrat.
Ummat butuh pengusaha.
Ummat butuh dokter.
Tapi yang paham agama.

Akhuukum Al Faqiir Ilallah
-Ibn Muslim Afifi-
Tanah Arabika Pondok Kopi,
di penghujung liburan.

Barakallahufiikum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s