Story

Mantan Gitaris (Calon) Hafizh

Hiruk pikuk ibukota mewarnai masa kecil si Alif. Kehidupan yang serba heterogen terkesan agak sekuler. Bahkan di lingkungan sekolah yang berlabel ‘Islam’ pun seolah tak ada bedanya. Tak ada daya jual sebagai penyandang label itu. Seiring dengan semakin besarnya arus globalisasi yang kian tak terkendali, hari demi hari. Meracuni hati dan pikiran anak-anak zaman ini. Bagaimana dengan Alif???

Hari – hari berseragam putih merah ini akan segera berakhir. Tapi hari ini berbeda, ia masuk sambil menyandang sebuah gitar klasik di lengan kirinya. Gitar klasik yang bersenarkan kawat itu, baru saja dipanjamnya dari Om Adi beberapa hari yang lalu. Dengan pengetahuan nol tentang alat musik yang akan ia mainkan itu, dengan percaya dirinya masuk melalui gerbang, disambut oleh guru piket pada hari itu.

Semua itu berawal dari pertanyaan Pak Dani, guru seni musiknya. Di acara tutup tahun dan perpisahan kelas VI, selalu ada persembahan terakhir berupa penampilan musik dan grup band. “Lif, kamu mau main apa?” tanya Pak Dani. Alif pun bingung untuk menjawab. “Eh, saya main gitar aja deh, Pak!” seru Alif tanpa pikir panjang, ia pikir tak ada pilihan lain untuk menjawab. Antara gengsi dan malu dengan teman-teman sekelasnya. Inilah si Alif dengan hobi barunya, gitar.

Siang itu spesial untuk Alif. Gitar klasik yang selalu menemaninya di saat pelajaran seni musik berganti menjadi gitar elektrik, keren pula. Bukan hanya keren, tapi ayahnya membeli gitar itu seharga Rp 1.000.000,- (Satu juta rupiah) dari salah satu toko musik di pusat ibu kota. Perhatiannya teralih pada gitar barunya, sedangkan gitar klasiknya hanya menjadi selingan di sela-sela latihan pekanannya mempersiapkan acara tahunan sekaligus farewell party (semacam acara perpisahan) di akhir tahun nanti.

Delapan bulan latihan digelar untuk menampilkan performa terbaik. Baik itu menampilkan lagu wajib, mars sekolah, maupun membawakan lagu-lagu band tanah air yang lagi hits pada saat itu. Tibalah acara yang ditunggu. Fitnah kehidupan modern yang serba glamour itu membuat islam hanya sebatas label dan nama, tak mencirikan sikap. Adzan dzuhur, acara ‘hura-hura’ itu masih berlangsung. Ayah Alif tiba di aula pertamina, dan langsung mengajaknya shalat dan pulang. “Ngapain ikut acara begituan? Shalat ditinggal, jingkrak-jingkrak iya,” ayah agak kesal. Sayang sekali, penampilan yang dinantikan dengan gitar elektriknya hanya sekedar mimpi bagi Alif.

***

Pagi ini berbeda, semua serba baru. Lingkungan baru, teman baru, guru baru, dan seragam baru. Bukan seragam putih merah lagi, tapi putih biru, bergamis pula. Di sini lah Alif menemukan jati diri sebenarnya.

Semua ini bermula dari taujihat (nasihat-nasihat) yang disampaikan oleh asatidz (baca : guru-guru). Dimulai dari masa orientasi, yang berbeda dengan sekolah-sekolah umumnya. Masa orientasi yang bernilai untuk mengawali lembar kehidupan baru sebagai seorang santri baru di ma’had yang baru berumur 6 tahun. Menghapus lembar kelam masa lalu dan menggantinya dengan coretan tinta emas yang sangat tak ternilai harganya. Berhijrah dari jiilun taaihun (generasi kesasar-sasar) menjadi jiilun raasyidun (generasi terbimbing) yang akan menjadi jiilun muntazharun (generasi yang dinanti-nantikan).

Lingkungan kali ini tentu berbanding terbalik. Sangat mendukung thalabul ‘ilmi (baca : menuntut ilmu). Tempat yang dirindukan oleh para hamba yang bersih hatinya, yang haus akan siraman nasehat. Terlebih lagi sekarang, di masa fitnah merajalela. Tak kenal orang, tak kenal waktu, tak kenal pula tempat. Yang baik jadi buruk, buruk jadi baik. Ya Rabb! Dunia ini terbalik.

Tahfizh Al Qur’an menjadi salah satu program inti ma’had (baca : pesantren). Sebenarnya target program ini tak muluk-muluk. Hanya satu juz setiap tahunnya. Berbagai keutamaan sebagai huffazhul Qur’an (para penghafal Al Qur’an) memotivasi Alif, santri baru yang datang ke ma’had dengan hanya bermodalkan surat-surat pendek, berbeda dengan beberapa teman-temannya, yang sudah hafal beberapa juz. Ada yang hafal satu juz, dua juz, bahkan tiga juz. “Yah, kan wajarlah mereka SD IT, lah aku?” gumam Alif. Program yang menarik pun ditawarkan, Study Club Tahfizhul Qur’an. Sayang, kemampuannya belum memenuhi standar penghafal Al Qur’an. Sedih memang. Tapi, ini tak menyurutkan semangatnya menghafal. Walaupun hanya ikut dalam halaqah tahfizh (kelompok tahfizh) biasa. “2016-2017, Insya Allah biidznihi, Hafal 30 Juz” tulis alif dalam sebuah agenda kecil pemberian sahabat sejak SD, Faris.

***

Ramadhan, bulan yang penuh berkah, pahala bagaikan dagangan yang diobral cuma-cuma. Ma’had pun mengadakan semacam perlombaan yang diikuti oleh seluruh santri, untuk memotivasi mereka agar tetap semangat dalam menyambut tamu yang mulia ini sebelum mereka kembali ke kampung halaman masing-masing untuk menyelesaikan Ramadhan yang tersisa dan merayakan Idul Fitri bersama keluarga mereka tercinta. Tawaran datang kepada Alif dari wali kelasnya, Ust. Raman, untuk ikut musabaqah tahfizh kategori juz 30. “Ustadz, Alif masih belum lancar beberapa suratnya, An Naba’ sama An Nazi’at,” Alif mencoba menolak. “Terus mau ikut apa Lif?” tanya sang Ustadz. “Pidato Bahasa Indonesia aja stadz,” pinta Alif. Tak disangka Alif pun bisa menguasai panggung dengan baik. Di malam penutupan sekaligus final, ia tampil dengan performa terbaik dan mendapat juara II.

Dalam suatu ta’lim bersama salah seorang ustadz senior, mengajarkan tentang adab thalibul ‘ilmi. Suatu saat beliau pun menyinggung masalah musik. Malam itu, menjadi awal titik balik untuk Alif. Nasehat sang Ustadz sangat membekas di hatinya. “Antum mau ngafalin Al Qur’an jangan denger musik. Karena gak akan mungkin Al Qur’an dengan musik itu menyatu,”. Malam itu ia putuskan semua memori kelamnya. Beruntung, di ma’had memang tidak diperkenankan membawa alat-alat elektronik. Jadi Alif pun tak merasa ketergantungan yang sangat. “Tapi gitarnya mau diapain? Ya sudahlah,” Alif pasrah. Pilihan itu pasti ada resikonya.

***

“Memang berat teman-temanku, kalau ternyata syari’at yang ada itu bertentangan dengan apa yang sudah menjadi kebiasaan kita. Butuh pengorbanan. Ingat pesan seorang ulama, Ibnul Qayyim rahimahullah : “Jika kamu ingin tahu KECINTAAN kepada ALLAH yang ada pada dirimu maupun orang lain, maka lihatlah kecintaan hatimu kepada ALQURAN, dan (apakah) kelezatanmu dalam mendengarkannya melebihi kelezatan para penyanyi dan penari mendengarkan musik. Semoga Allah selalu bimbing kita dengan hidayah-Nya”. Ikhwanii fillah… Kebaikan itu tak akan bercampur dengan kemaksiatan~Alif Abu Abdillah

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s