Cerpen

Trip to Gontor ~ Studi Banding Jam’iyyah Tholabah ke OPPM

Oleh : Afifi Marzuki Muslim dan Hafidh Atsary

Siang hari itu, bertepatan hari Rabu, 26 November 2014 pukul 14.00 WIB. Kami, perwakilan Jamthol “BRAVE” yang berjumlah 29  orang ditemani dengan 2 orang pembimbing kami, Ust. Nur ‘Alim  dan Ust. Harianto, berangkat ke arah timur Jawa untuk melakukan studi banding ke sebuah pondok modern yang sudah berumur kurang lebih 89 tahun, dimana kedisiplinan dan kepribadian dijadikan pilar utama bagi para santrinya, Pondok Modern Darussalam Gontor.

***

“Semua dah siap?” Tanya Pak Saleh, supir bis yang menemani kami. “Ya, semuanya udah siap!” balas Hafidh dengan acungan jempol. Pak Saleh menarik tuas dan menginjak gas. Bis AL BINAA pun melaju keluar Ma’had  Segala persiapan perbekalan untuk perjalanan selama 18 jam sudah kami siapkan.. Pukul 20.00 WIB, kami berhenti di sebuah rest area dan melaksanakan shalat Maghrib yang dijamak dengan shalat Isya, dilanjutkan dengan makan malam, kemudian kami melanjutkan perjalanan.  Memasuki wilayah Jawa Tengah, bulan pun semakin terang ditengah gelapnya malam. Para peserta pun terlelap di tengah penatnya perjalanan, namun tidak dengan supir kami. Akhirnya Pak Saleh pun bertukar posisi dengan rekannya. Qadarullah, kami terjebak macet cukup lama di sekitar Semarang sehingga membuat jadwal perjalanan kami tertunda.

Kamis, 27 November 2014, pukul 09.00 WIB, kami memasuki wilayah Ponorogo, disambut dengan Reog khas Ponorogo. Bis AL BINAA terus melaju hingga kami dapati plang Pondok Modern Darussalam Gontor. Mata kami tertuju pada satu spanduk bertulis “ES DAWET”, teringat sarapan. Kami pun langsung turun dan menyantap es dawet dan gorengan sebagai pengganjal sementara. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Wisma Gontor. Kami pun tiba di Wisma Gontor, meletakkan seluruh barang bawaan, dan bersiap-siap untuk pertemuan.

Pukul 12.00 WIB, kami tiba di Pondok Modern Darussalam Gontor. “Subhanallah…” Kami harus takjub untuk yang kesekian kalinya. Beberapa orang dengan mengenakan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana hitam panjang ditambah songkok hitam yang gagah di kepala mereka, menyambut kedatangan kami di sebuah ruangan pertemuan. Kami pun menerima snack produksi Gontor, begitu pun dengan air mineralnya berlabel Gontor. Kegiatan hari itu pun diawali dengan menyaksikan video profil Gontor yang  dilanjutkan dengan penjelasan mengenai keorganisasian santri di sana. Kalau di AL BINAA, kita mengenal dengan JAMTHOL (Jam’iyyah Tholabah) sedangkan di sana mereka mengenal dengan istilah OPPM (Organisasi Pengurus Pondok Modern) yang ternyata anggotanya adalah santri kelas 6 atau kelas 12 SMA sejumlah kurang lebih 700 santri. OPPM terdiri dari 21 divisi, diantaranya ada divisi fotokopi, divisi laundry, divisi penggerak bahasa, dan divisi-divisi lainnya. Hampir seluruh kegiatan yang berada di pondok dikoordinir oleh santri khususnya para pengurus pondok. Selain itu, ustadz-ustadz maupun musyrif adalah lulusan Gontor.

Pertemuan pun usai, kegiatan kami lanjutkan dengan pertemuan masing-masing divisi, disesuaikan dengan jumlah divisi yang ada di JAMTHOL, yaitu 8 divisi. Kami pun berpencar. Setelah kami mengamati, ternyata seluruh divisi yang ada pada OPPM memiliki markaz atau ruangan sendiri. Sepeda ontel pun terjajar dengan rapih milik divisi keamanan. Mereka pun memiliki walky talky, bahkan borgol tergantung di dinding ruangan mereka. Untuk divisi kebersihan, mereka memiliki mobil kebersihan yang dioperasikan oleh santri. Selain itu, yang perlu kita acungi jempol lagi terhadap giroh atau semangat dari divisi penggerak bahasa, sehingga santri-santri Gontor mampu menerapkan dwi bahasa dalam keseharian mereka, bahasa arab maupun bahasa inggris, yang divariasikan dengan kegiatan-kegiatan yang ada. Bahkan, surat yang ditulis oleh sekretaris OPPM pun menggunakan bahasa yang berbeda setiap dua pekannya, baik itu bahasa arab, maupun bahasa inggris. Rasa takjub mengakhiri kegiatan kami pada ashar itu.

Santri-santri Gontor memang sangat diuji kesabarannya. Mereka harus bertahan dengan segala kondisi yang sangat sederhana. Dari sisi makanan sehari-hari salah satunya. Lauk pauk ala kadarnya dengan dibumbui rasa qona’ah ternyata pun cukup.  Menu-menu spesial hanya mereka dapatkan satu kali dalam setiap pekannya. Selain kesabaran yang diuji, mereka juga dilatih untuk mengembangkan kreativitasnya. Setiap asrama atau sakan yang biasa mereka kenal dengan rayon terdapat mading-mading kreasi dan keseluruhan hasil karyanya pun dari olahan tangan atau hand made. Selain itu, yang menakjubkan lagi, dari acara tahunan mereka, Panggung Gembira, acara pentas seni yang menampilkan seluruh atraksi dari santri-santri Gontor.

Berikut beberapa hal menarik lainnya yang kami dapat dari perjalanan sore itu, yang tidak kami dapatkan hal seperti itu di AL BINAA. Pertama, tidak ada yang kami dapatkan seorang pun santri yang mengenakan celana tiga perempat, tetapi mereka mengenakan sarung yang diikat dengan gesper atau celana panjang hitam dengan kemeja yang dimasukkan rapih ke dalam. Kedua, hampir semua produk yang ada di Gontor merupakan hasil produksi mereka sendiri, diantaranya songkok, seragam kemeja, dan celana training. Tiga, ketika karyawan bagian dapur libur, maka pekerjaan mereka diambil alih oleh para pengurus divisi dapur atau divisi math’am. Luar biasa! Empat, untuk shalat lima waktu kecuali magrib, santri selain kelas 5 dan 6, mereka sholat di rayon masing-masing sebagai bentuk pembelajaran untuk melatih mental dalam menjadi imam dan muadzin. Lima, setiap santri yang hendak shalat di masjid, melepaskan sandal mereka dan memasukkannya ke dalam tas khusus made in Gontor supaya sandal mereka tidak tertukar, karena ketika shalat maghrib, seluruh santri yang berjumlah hampir 4.000 santri shalat dalam satu masjid. Ketika mereka keluar dari masjid seusai melaksanakan shalat maghrib, terlihat dari kejauhan, seakan-akan semut yang bergelombol keluar dari masjid.

Jum’at, 28 November 2014, inilah hari terakhir kami. Pukul 05.00 WIB, Suasana pada pagi hari ini sangat bersemangat dan hangat. Masing-masing rayon berkumpul dan menyorakkan yel-yel mereka dengan bahasa arab dan bahasa inggris. Sebagian rayon juga melakukan SKJ (senam kebugaran jasmani). Setelah itu, kami mengunjungi bazar yang menawarkan produk-produk dengan harga yang terjangkau. Kegiatan kami lanjut dengan persiapan keberangkatan kami untuk kembali ke ma’had tercinta. Pukul 11.00 WIB, kami pamit pulang dan mampir di sebuah pesantren yang tak jauh dari Pondok Modern Gontor, Pesantren Darul Fikri. Alhamdulillah keesokan harinya, Sabtu, 29 November 2014, pada pukul 10.00 WIB, kami menginjakkan kaki kami kembali di pondok pesantren tercinta AL BINAA Islamic Boarding.

***

Setiap perjalanan tentunya banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Khususnya kunjungan kami ke Pondok Modern Darussalam dan Pesantren Darul Fikri. Dari perjalanan ini pula, ternyata kami mendapati bahwa di atas langit masih ada langit. Tidak layak bagi kami untuk merasa paling hebat sehingga kami merasa cukup dengan apa yang kami miliki. Pengalamanlah guru terbaik. Masih banyak PR yang menunggu untuk kami selesaikan secepat dan sebaik mungkin. Semoga perjalanan ini menjadi perjalanan yang mengesankan dan berbekas sehingga bisa menjadi motivasi kita untuk menjadi lebih baik.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s