Bahasa Arab · Nahwu

Dua Sejoli yang Tak Terpisahkan ~ Nahwu n’ Shorf ~

Nahwu Shorf! Apa tuh? Ya kalau buat santri mah beginian udah gak asing lagi di telinga mereka. Inilah makanan mereka sehari – hari. “Makanan kayak apa tuh? Enak gak?” *abaikan*

Yang jelas, ikhwanii fillah, nahwu shorf itu bukan makanan, bukan gorengan, bukan lalapan. Jadi sebenernya, Nahwu Shorf tuh lebih keren dari sekedar makanan. Inilah ilmu yang harus disantap buat orang – orang yang mau memahami bahasa arab lebih dalam. Inilah cabang ilmu bahasa arab. Dan sebetulnya masih banyak lagi cabang – cabang ilmu bahasa arab seperti balaghah, ‘arudh, insya’ dan masih banyak ilmu lainnya, luas banget yaa… Penasaran? Check It Out!

Kalo kata ulama zaman dahulu,

“الصَّرْفُ أُمُّ الْعُلُوْمِ و النَّحْوُ أَبُوْهَا”

Artinya :

“Shorf itu adalah ibunya ilmu-ilmu (agama) sedangkan Nahwu itu adalah bapaknya”

Kok gitu ya? Shorf itu nyokapnya ilmu and Nahwu itu bokapnya. Kenapa?? Karena kita mustahil memahami Al Qur’an dan As Sunnah dengan sempurna, yang merupakan mashdar alias sumber hukum agama yang udah dijamin sama Allah ini, agama Islam. Bukan sekedar memahami Al Qur’an dan As Sunnah, tapi juga bisa memahami perkataan ulama terdahulu, dari kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum, kalangan tabi’in dan tabi’ut taabi’iin rahimahumullah ajma’iin. Kita harus berusaha dengan sungguh – sungguh untuk menguasai ilmu yang mulia ini. Semoga Allah ta’ala memudahkan jalan kita semua dalam menuntut ilmu guna menghilangkan kebodohan diri sendiri dan juga orang lain.

Yuk kita bakar semangat kita untuk belajar bahasa arab. Mari kita renungi nasehat salah seorang sahabat Rasulullah, Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, di dalam atsarnya :

“تَعَلَّمُوا العَرَبِيَّةَ وَ عَلَّمُوهَا النَّاسَ”

“Pelajarilah bahasa arab, dan ajarkanlah bahasa arab itu kepada orang – orang”

Semoga nasehat sahabat Rasul yang begitu mulia ini bisa menjadi motivasi untuk kita semua belajar dan mengajar bahasa arab. Sampai kapan kita dininabobokan dengan ketidaktahuan kita dengan ilmu ini. Yuk yang paham share ilmunya bareng – bareng. Yuk yang mau belajar, kita belajar bareng – bareng.

What is Nahwu?

Nahwu itu dipelajari buat memudahkan kita dalam membaca dan juga memahami arti suatu kalimat bahasa Arab. Nah, itulah inti dari ilmu ini. Membaca dan Memahami.

Ikhwanii fillah, kalau kita liat kitab – kitab bahasa arab yang tak berharakat, atau bahasa kerennya, kitab gundul -karena dia gak berharakat, jadi dibilang gundul deh…- kan bingung ya tuh, “Ih gimana sih bacanya??” atau kita liat Koran arab deh, ada gak tuh harakatnya? Nggak kan? Bisa bacanya? Ya, kalau udah belajar insya Allah bisa kok.

Yuk kita liat contohnya, coba deh kita baca ya, (jangan langsung dilongkap, gak seru entar)

  1. ضرب عائشة أحمد
  2. ضرب عثمان أحمد

Nah ini nih, coba kamu baca. Kalau belum akrab sama Nahwu bingung deh. Ok! Check It Out.

Yang pertama, bacanya (Dhoroba ‘Aisyata Ahmadu) dan yang kedua, bacanya (Dhoroba Utsmaanu Ahmada). Nah lho, yang pertama, harakat akhirnya dhammah (ــُــ). Kok yang kedua harakat akhirnya fathah (ــَــ)? Jadi begitulah Nahwu ikhwanii fillah. Intinya dia ngebahas “PERUBAHAN” karena dalam bahasa arab itu, beda kedudukan beda pula bentuk dan harakatnya, ini kita  ngomongin mayoritasnya yaa… karena terkadang ada yang beda kedudukan tapi bentuk ataupun harakatnya sama.

Jom! Kita liat yang berbeda kedudukan, beda pula bentuk dan harakatnya.

Bentuk Pertama

ضَرَبَ زَيْدٌ الْكَلْبَ

“Zaid telah memukul anjing itu”

Bentuk Kedua

ضَرَبَ مُحَمَّدٌ زَيْدًا

“Muhammad telah memukul Zaid itu”

Bentuk Ketiga

مَرَرْتُ بِزَيْدٍ

“Aku telah melewati Zaid”

Nah kita lihat kan kata Zaid, berbeda kan harakata akhirnya. Nah kalau yang pertama Zaid itu dia sebagai pelaku. Sedangkan yang kedua Zaid itu sebagai objek. Sedangkan yang ketiga… *bisa disimpulkan sendiri deh ^_^*

Jadi, ikhwanii fillah,… kalau harakatnya beda, artinya beda juga kan? Termasuk juga perlu diperhatiin oleh Huffazh, temen – temen yang ngafal Al Qur’an. Karena gak sembarangan bahasa Al Qur’an itu, sempurna sekali. Hati – hati kalau kita ngegampangin, nanti kalau salah berabe.

Lebih lanjutnya kita share lagi nanti yaa… 🙂 khususnya yang gak berubah. Pada pembahasan I’rob dan Bina`. Ok?

How about Shorf?

Shorf itu ilmu bolak balik. Pusing pusing deh belajar ginian. Nggak kok sebenernya. Intinya shorf ini tuh mempelajari bentuk – bentuk alias shighoh kata dalam bahasa Arab. Nah kenapa dinamain bolak – balik? Karena hanya karena ilmu ini kamu bisa mengubah suatu bentuk kata dalam bahasa arab ke bentuk (shighoh) kata yang lain.

Kalau pernah denger ada namanya fi’il madhi, fi’il mudhori’, dan fi’il amr, fi’il nahyi, mashdar, dkk. Itu dipelajari di shorf. Bukan hanya itu, kita bakalan memadukan shighoh itu dengan dhomir atau kata ganti alias pronoun. Misalnya suatu kata di fi’il madhi, ضرب  (baca : Dhoroba). Nah ini nih buat هُوَ (Dia satu orang laki – laki). Kalau buat si Dia, *siapa hayo?*, buat هِيَ (Dia satu orang perempuan) pakenya ضَربتْ (baca : Dhorobat).

Let’s Combine Baina Humaa…

Shorf sama Nahwu nih ibarat ibu sama bapak dalam suatu keluarga. Paham lah ya? Kan tadi kata ulama,

“Shorf itu adalah ibunya ilmu-ilmu (agama) sedangkan Nahwu itu adalah bapaknya”

Logikanya, seorang anak gak akan lahir tanpa ibu dan bapaknya kan? Kita gak ngomongin mukjizat nabi Isa ‘alaihissalaam yaa… Itu di luar bahasa ini. Umumnya begitu kan ya??

Dengan shorf, ilmu yang mempelajari bentuk – bentuk kata dalam bahasa arab yang memiliki berbagai macam makna. Tapi kata – kata yang memiliki seribu satu makna, *saking banyaknya, yang ini lebay* itu tak berarti apa – apa kalau tidak bisa tersusun dengan baik. Nah, untuk menyusunnya dibutuhkan lah Nahwu. Coba kita bayangin kalau kita mau ngebangun suatu rumah. Kita butuh material. Bukan cuman materialnya kan? Kita perlu tau cara ngolah dan menyusun material tersebut hingga jadi rumah. Kita analogikan nahwu dan shorf itu seperti ilmu untuk membuat suatu bangunan. Shorf itu bagaikan ilmu untuk membuat materialnya seperti kaca, besi, kayu, dll. Nahwu itu bagaikan ilmu untuk menyusun material itu supaya bisa tersusun menjadi bangunan yang gagah dan mewah. So, itu kedua ilmu ini gak bisa dipisahin. Ibarat surat ama perangkonya deh~zaman baheula.

Udah dulu ya, semoga makin semangat belajarnya. Ma’akumuttaufiiq.

Wallahu ta’ala a’lam bishawab

Baarakallahu fiikum jamii’an

 Akhuukum fillah-Afifi Marzuki Muslim-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s